Bersedekah Juga Bentuk Usaha Kita

Setelah saya keluar dari penjara yang kedua kalinya di tahun 1999, saya berinteraksi dengan sedekah. Ketika saya membuka klinik konseling dan spiritual dari satu daerah ke daerah lain selama lima tahun saya dan teman-teman di pondok pesantren dan majelis bergerak melayani masyarakat, membantu keinginan mereka dengan jalan bersedekah. Saya dan kawan-kawan menjadi kaya dengan testimoni sedekah. Contohnya saja tentang seorang perempuan berusia 37 tahun yang tidak kunjung dapat jodoh. Setelah balik dari berkonsultasi dengan kami dia langsung mampir ke masjid terdekat dan menanyakan apa yang bisa disumbangkan. Kebetulan masjid tersebut perlu donatur untuk lantai yang sedang di lelang.

Permeternya 150 ribu. Si perempuan yang sudah 37 tahun belum punya jodoh itu bersedekah 600 ribu atau empat meter lantai. Subhanallah, dalam seminggu setelah itu, ada empat orang yang melamar dia. Nah kisah-kisah ini bisa menjadi baik kalau kita sampaikan pada orang lain supaya orang lain tergerak. Jadi kita memberi contoh. Kalau dalam urusan sedekah itu kita bicara doing is believing. Lakuin saja nanti elo pada percaya. Saya menulis buku berjudul 5+1 yang berisi cerita-cerita yang mengagumkan. 5 + 1 itu artinya begini.

Satu kita kudu tahu bahwa setiap kebaikan itu betul-betul akan berbuah kebaikan, termasuk sedekah. Yang kedua setelah tahun kita harus yakin. Habis yakin kita harus amalkan sendiri. Kenapa harus diamalkan? Untuk membuktikan kebenarannya itu!

Yang ke lima kita harus rasakan sendiri. Yang ke enam adalah ceritakan apa yang kita lakukan. Lho, usaha orang yang bermasalah itu, mendekatkan diri kepada Allah itu usaha. Tidak bisa dibilang tidak usaha. Secara psikologis misalnya begini, istri anda sedang sakit di rumah sakit. Kemudian Allah dan rasulnya menawarkan, kalau istri mau cepat sembuh segera berbuat baik pada orang lain. Nah anda kemudian berjalan dengan istri yang sedang sakit itu menyambangi orang-orang yang sudah mau dipotong kakinya, orang yang sudah nafasnya sudah mau mati, seketika itu menjadi obat juga. Dan itu adalah usaha. Dalam artian menyadari mereka sakit tapi tak punya duit buat berobat. Saya sakit, istri saya sakit tapi bisa ke rumah sakit manapun mampu.

Orang lain sakit, tidak punya cucu, tidak punya anak, kerabat di sekitar tempat tidur dia. Saya sakit, subhanallah banyak orang di sekitar saya. Itu sudah menjadi obat. Makanya ada efek psikologis yang mungkin Allah dan rasulnya tidak mensyiarkan secara langsung. Kitalah yang merasakan Kebahagiaan itu bukan pada menerima tapi pada memberi. Saya bismillah, ini adalah sedekah saya juga, gitu kan. Sedekah ide cerita, sedekah pikiran, sedekah tenaga. Ketika dapat respon dari masyarakat, saya tidak berpikir ingin mendapatkan popularitas. Saya berpikir tentang bahwa saya sudah masuk di mata rantai kebaikan. Jadi demi Allah ketika ada orang bilang ustad, saya daftar haji besok, saya merasa itu adalah ibadah saya dan teman-teman lain juga yang ikut mengusung sinetron ini.

Allah mengatakan dalam surat An-Nisa ayat 85 bahwa perbuatan baik itu bukan pada yang kita lakukan saja, tapi yang orang lakukan gara-gara kita mendorong perbuatan baik itu menjadi ada.

(Dari Interview 2006 Ustad Yusuf Mansur)

————————-

PEDULI SESAMA ANAK YATIM & KAUM DUAFA

Salurkan sebagian rezeki anda melalui salah satu nomor rekening berikut :

Nomor rekening: BRI 0909-01-031189-53-8 a/n Sendy Aldiana

Email: sendyaldiana@yahoo.co.id

This entry was posted in Umum. Bookmark the permalink.